Pengorbanan dalam Perjuangan

0

Ba’da tahmid dan bersholawat atas nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Dalam berjuang pasti ada pengorbanan, dalam berjihad pasti ada “tadhiyah”. Perjuangan dan tadhiyah adalah satu hal yang tidak boleh dipisah-pisahkan. Keduanya menjadi sesuatu yang sangat penting agar cita-cita dan tujuan dapat tercapai.

Syaikh Hasan Al Banna mengungkapkan tentang pengorbanan. Beliau berkata, yang saya maksud dengan tadhiyah adalah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran jiwa raga dan harta dan segala hal yang dimiliki untuk meraih sesuatu.

Allah Ta’ala berfirman;

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”. (QS. At Taubah : 111)

Ulama mengatakan anfus artinya tenaga waktu, pikiran dan lain-lainnya yang dimiliki oleh seseorang. Maka, apa yang kita punyai harus kita korbankan untuk meraih kemenangan di jalan Allah Ta’ala.

قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ

Katakanlah :Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. At Taubah : 24)

Jadi boleh kita senang dengan materi, akan tetapi jangan sampai cintanya melebihi cintanya kepada Allah Ta’ala dan rasul-Nya. Mencintai Allah Ta’ala dan rasul-Nya adalah yang utama.

Kita bermuthal’ah, melihat masa-masa yang lalu mereka mendapatkan kejayaan karena pengorbanan. Termasuk itu pada para nabi sebelum nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Bayangkan  Nuh ‘alaihis salam 950 tahun tidak henti-hentinya berdakwah.

Kita tidak mengukur dengan waktu atau tidak mengukur dengan banyaknya pengikut, akan tetapi bagaimana pengorbanan kita, seberapa pengorbanan kita, itulah yang dihitung oleh Allah.

Bagaimana rasululloh shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat yang begitu gigihnya sampai kita dapat merasakan Islam. Itu pengorbanan yang luar biasa, bondo, bahu pikir saperlu sa’nyawane. Itu memang harus dan merupakan suatu keharusan.

Bagaimana Mus’ab bin umair radiyallahu ‘anhu yang mengorbankan kehormatannya, hartanya. Dia, kehormatan di masa jahiliyah merupakan pemuda yang perlente, kaya raya anak seorang bangsawan. Semua dikorbankan, dilakukan untuk kejayaan Islam dan beliau syahid di perang Uhud. Begitu juga para sahabat yang begitu gigihnya dalam berkorban.

Atau juga ulama kontemporer bagaimana Syaikh Hasan al Banna, Syaikh Sayyid Quthb yang begitu gigihnya, meski diganjar penjara, dan siksaan yang luar biasa. Walaupun ditawari jabatan, karena kebenaran yang ia pegang teguh, itu tidak diambilnya.

Bagaimana Zainab ghozali dipenjara, begitu seterusnya, tidak henti-hentinya mereka gugur dalam perjuangan. Tapi gugur satu tumbuh seribu, bagaikan disiram dengan air yang bisa menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.

Bisa jadi setelah kita nanti dan menjadi tua, tunas-tunas yang ada pada cucu kita, terus subur karena pengorbanan kita. Tumbuh subur disiram dengan pengorbanan kita, pengorbanan yang tiada henti-hentinya.

Aktifitas kita sehari-hari, dari rumah sampai tempat kerja juga membutuhkan waktu. Ketika semuanya dikorbankan karena Allah Ta’ala, maka itu semuanya akan barokah, akan kita rasakan nantinya.

Bahwa yang kita lakukan, kita siapkan untuk generas-generasi yang akan datang. Generasi yang sekarang ini, bisa jadi 30 atau 40 tahun yang akan datang akan tumbuh dari mereka orang yang akan mempertahankan agama Allah Ta’ala. Pendidikan itu, di manapun itu berarti mempersiapan generasi yang akan datang. Para pendidik yang ikhlas, mengorbankan sepenuhnya karena Alloh Ta’ala, akan mendapatkan hasil yang optimal, insyaAllah.

Oleh: KH. Abdul Hakim AKA. (Pimpinan PPM Baitussalam)

Share.

Leave A Reply