Penerapan Aqidah yang Bersih (4): Tidak Mendatangi Peramal

0
Lanjutan dari artikel: Penerapan Aqidah yang Bersih (3) : Tidak Meyakini Kesialan

Saudaraku seiman yang berbahagia, sebagai muslim yang kokoh dalam menjaga nilai-nilai ketauhidan, sudah seharusnya perkara-perkara yang bisa mengotori bersihnya aqidah dijauhi, di antaranya adalah mendatangi peramal dan dukun untuk urusan tertentu. Sedikit saja kita melakukan perkara-perkara yang bisa mengotori bersihnya aqidah bisa fatal akibatnya.

Kenyataannya dengan kondisi saat ini yang serba sulit, di antaranya adalah lapangan kerja yang sulit dicari, peluang usaha semakin ketat persaingannya, harga-harga kebutuhan sehari-hari terus melambung dan sebagainya. Bagi orang yang imannya lemah dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut mengambil jalan pintas, yaitu mendatangi dukun atau tukang ramal.

Bahaya Mendatangi Peramal dan Dukun

Perlu diketahui, dalam Islam mendatangi dukun atau tukang ramal sangat dilarang. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut;

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barangsiapa yang mendatangi dukun kemudian bertanya kepadanya tentang sesuatu maka tidak diterima darinya shalat selama empat puluh hari” (HR. Muslim).

Makna tidak diterima shalatnya adalah tidak ada pahala baginya dalam shalat tersebut, meski shalatnya cukup untuk menggugurkan kewajiban darinya, sehingga dengan itu ia tidak perlu untuk mengulang shalatnya.” [Syarh Muslim, 14/227, Taisirul ‘Azizil Hamid, 347-348]

Ada pemahaman yang tersebar di masyarakat bahwa dukun atau tukang ramal (orang pintar) bisa mengetahui yang ghaib. Sehingga dengan bertanya kepada mereka bisa menemukan jalan keluar dari kesulitan yang sedang dihadapinya. Padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Hakikat Perkara Gaib yang Mereka Ketahui

Perkara ghaib yang mereka ketahui pada hakikatnya berita yang didapat dari jin yang dicurinya dari langit dan selebihnya adalah kebohongan belaka. Dan jin tidaklah memberi bantuan kepada para dukun atau tukang ramal kecuali apa yang menjadi keinginan jin dituruti. Tidak lain adalah perkara kekufuran.

Allah subahanahu wata’ala berfirman;

قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُ

Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan kita agar tidak datang kepada para dukun atau tukang ramal, bertanya tentang satu urusan. Misalkan mencari barang yang hilang, meramal nasibnya atau bahkan mencari pesugihan dan sebagianya.

Demikian tersebut merupakan perkara yang bisa menjerumuskan kita ke dalam kekufuran. Sebagai mana dalam sabda Nabi saw;

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَعَلَى مُحَمَّد

Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal, lalu ia mempercayai ucapan dukun atau peramal tersebut maka ia telah kafir terhadap (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.” (HR. Ahmad. Ash-Shahihah, 3387)

Akhirnya, tidak ada jalan lain ketika kita sedang mengalami ujian kesusahan, kesempitan dan semisalnya. Kita bertawakan kepada Allah subhanahau wata’ala, sehingga dalam kondisi sesulit apapun kita, aqidah kita tetap bersih.

Oleh: Ustadz Indra Kurniawan, S.Sos.I

Berlanjut ke artikel: Penerapan Aqidah yang Bersih(5); Tidak Meyakini Ramalan Bintang

Share.

Leave A Reply