Penerapan Aqidah yang Bersih (3) : Tidak Meyakini Kesialan

0

(Sambungan dari artikel : Penerapan Aqidah yang Bersih (2): Mencari Berkah Allah)

Terkadang seseorang merasa was-was ketika akan melakukan aktifitasnya, sehingga ia membatalkannya. Was-was tersebut berasal dari kepercayaan akan waktu nahas. Tidak dipungkiri lagi, di zaman modern saat ini keyakinan-keyakinan seperti itu yaitu meyakini kesialan masih ada. Karenanya, cukup beralasan pembahasan seperti ini harus selalu disampaikan dalam rangka menjaga bersihya aqidah kaum muslimin.

Perasaan was-was ketika ingin melakukan aktifitas karena merasa adanya kesialan jika melakukan ini dan itu, merupakan perkara yang bisa mengotori bersihnya aqidah kita. Demikian yang dinamakan dengan tathayyur (merasa sial).

Dahulu, orang arab jahiliyah ketika ingin melakukan aktifitasnya misalnya berdagang, mereka menerbangkan burung terlebih dahulu. Jika terbangnya ke arah kiri, mereka membatalkan niatnya untuk beraktifitas. Namun sebaliknya jika burung tersebut terbang ke arah kanan, mereka melanjutkan aktifitasnya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْ يَقُوْلَ أَحَدُهُمْ :اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.

“Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Para Sahabat bertanya: “Lalu apakah tebusannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau” (HR.Ahmad).

Adapun Islam memerintahkan  untuk bertawakal kepada Allah subhanahu wata’ala dalam rangka mendapatkan manfaat atau menjauhkan dari mudharat. Sehingga, apapun kondisi yang didapat dari aktifitasnya tetap mendapatkan kebaikan dari Allah subhanahu wata’ala.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّمَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. At Taghabun:11)

Tidak sepatutnya bagi orang yang mengaku beriman kepada Allah subahanahu wata’ala kemudian mengimani takdir yang telah di tetapkan Nya, ia selalu was-was ketika ingin beraktifitas. Khawatir akan adanya kesialan pada waktu atau sebab tertentu. Padahal, was-was itu tidak memberi pengaruh apa-apa terhadap dirinya.

Keyakinan-keyakinan yang mengantarkan kepada perasaan was-was harus dihindari, diganti dengan tawakal kepada Allah subhanahu wata’ala.

Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mewaspadai dari perbuatan tersebut. Merasa khawatir akan kesialan hanya akan mendatangkan sikap pesimis dalam hidupnya dan tidak akan pernah mendapatkan ketenangan.

Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

Semoga kita sekalian terhindar-dari perkara-perkara yang bisa mengotori bersihnya aqidah kita, salah satunya adalah meyakini kesialan atau merasa sial terhadap sesuatu.

Oleh: Indra Kurniawan, S.Sos.I. (Staf pendidik di PPM Baitussalam)
Editor: Mas Cah

Artikel selanjutnya: Penerapan Aqidah yang Bersih (4): Tidak Mendatangi Peramal

Share.

Leave A Reply