Mensyukuri Nikmat dengan Meningkatkan Keimanan

0

Ba’da tahmid dan sholawat atas nabi. Setiap kita perlu mensyukuri nikmat sehat. Lebih utama lagi jika badan kita sehat sekaligus al ‘afiat. Bahkan ‘afiat itu lebih penting dari as sihat. Sihat itu lebih dilihat dari aspek raga, sedang ‘afiat itu dilihat dari aspek kejiwaan (ruh). Orang yang sehat raga namun tidak sehat jiwa, maka biasanya akan tergelincir kepada perilaku kemaksiatan. Bisa dipastikan orang yang berbuat kemaksiatan itu sehat raganya, bila tidak sehat pasti tidak bisa melakukan kemaksiatan. Akan tetapi jiwanya tidak sehat, sehingga jauh dari nilai-nilai kebaikan.

Sehat wal ‘afiat adalah bentuk kasih sayang Allah subhanahu wata’ala kepada hamba-hamba Nya, yang kita harus mensyukuri nikmat tersebut.
Nikmat sehat adalah karunia yang sangat besar, sehingga kita bisa dipertemukan lagi di awal semester dua ini. Akan tetapi, meski sehat raganya, mungkin para santri sekalian tidak semuanya sehat secara jiwa. Boleh jadi ada di antara santri-santri yang terkena virus-virus keburukan di lingkungan tempat tinggal, teman lama yang mengajak kepada hal-hal negatif, pengaruh tak baik dari media-media, dan sebagainya. Jangan sampai setelah liburan, penyakit-penyakit liburan sampai dibawa ke pesantren modern di Sleman ini. Kita tinggalkan penyakit-penyakit itu di luar ketika masuk kembali ke pondok ini. Di sini, kita kembali dilingkungan yang bersih dan mendukung untuk berbuat kebaikan.

Kemudian, masuk di hari pertama semester dua ini kesempatan bagi kita untuk memperbaharui keimanan kita, sekaligus kualitas ibadah kita. Pada waktu yang telah lalu ketika liburan ibadahnya yang kurang baik, kita perbaiki di semester dua ini. Bisa jadi saat liburan kemarin, sholatnya kadang tidak tepat waktu, atau tidak berjama’ah di masjid. Bisa jadi tilawahnya tidak seperti di pondok pesantren Prambanan ini. Al-ma’tsuratnya terlewatkan. Ketika kembali ke pondok harus diperbaiki lagi. Ini juga menjadi wujud dari mensyukuri nikmat.

Begitu pula dengan keimanan. Karena keimanan itu kadang naik dan kadang turun, naik karena amal kebaikan dan menurun karena kemaksiatan. Sehingga keimanan kita perlu diperbaharui. Diperbaharui itu bukan berarti diganti, namun dikembalikan. Dikembalikan sebagaimana seharusnya, sebagaimana fitrahnya. Rasullullah saw. bersabda, jaddiduu imanakum biqauli laa ilaaha illallaah, perbaharuilah keimananmu dengan mengucapkan laa ilaaha illallaah.

Tidak sekadar mengucapkan, namun dibarengi dengan pemahaman kita terhadap makna لا اله الا الله. Yaitu meniadakan, membuang jauh-jauh ilah atau sesembahan selain Allah. Makna ilah adalah yang dicintai, yang dimintai, yang dirindukan, yang membuat tenang dan tenteram, yang diingat dan sebagainya. Jangan sampai kecintaan kita kepada cinta-cinta selain Alloh mengalahkan cinta kepada Alloh. Bila terjadi, mau makan ingat kamu, mau mandi ingat kamu, mau tidur ingat kamu, bukan ingat kepada Allah, maka berarti memiliki ilah selain Allah.

Sebagai wujud perbaikan, kita sebagai generasi muda harus menatap jauh ke depan, demi masa depan yang cemerlang. Sebagaimana seseorang yang menatap ke arah cahaya, bukan membelakangi cahaya. Bila orang menatap cahaya can berjalan ke arah cahaya, maka bayang-bayang akan mengikutinya. Sedangkan bila membelakangi cahaya dan mengikuti bayangan, bayangan itu akan terus bergerak menjauh dari kita. Karenanya, penting untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Karena apa yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, yaitu umur, usia muda, ilmu dan hartanya .
Mudah-mudahan semester dua ini lebih baik, lebih berprestasi lagi.

Taujih oleh : KH. Abdul Hakim Aka. (Pimpinan Pondok Pesantren Modern Baitussalam)
Diresumekan oleh : Indra Kurniawan
Editor : Mas Cah

Share.

Leave A Reply