Mari Menjaga Amanah (Bagian 2)

0

Lanjutan dari artikel: Mari Menjaga Amanah

Agama Islam mengatur urusan ummatnya, baik untuk urusan dunianya terlebih untuk urusan akhiratnya. Tidak lain agar umat Islam memberi rahmat bagi lingkungan sekitarnya. Ini berarti bahwa setiap kita harus berbuat baik. Salah satunya adalah berlaku amanah pada semua hal.

Secara umum melalui nabi Nya rasulullah sholallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar berbuat baik dalam segala hal.

عن أبي يعلى شداد بن أوس رضي الله تعالى عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إن الله كتب الإحسان على كل شيء فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة وإذاذبحتم فأحسنوا الذبحة وليحد أحدكم شفرته وليرح ذبيحته (رواه مسلم)

“Dari Abi Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam, beliau bersabda, ”Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat terhadap segala sesuatu. Jika kalian membunuh (dengan hak), maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik, dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya serta melegakan sembelihannya.” (HR. Muslim)

Dan Allah Ta’ala secara khusus memerintahkan kita agar berbuat amanah, sebagaimana dalam firman Nya sebagai berikut;

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa`: 58)

Jadi, sudah jelas bahwa kita diperintahkan oleh Alla Ta’ala untuk senantiasa menjaga kepercayaan. Dan hal ini memiliki kedudukan penting dalam Islam, karena menyangkut hubungan muamalah antara satu dengan yang lainnya. Baik hubungannya dengan sesama muslim maupun dengan orang-orang di luar Islam sekalipun.

إِذَا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ . قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ : إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ اِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ .

Jika amanah telah disia-siakan, tunggulah saat-saat kehancuran.” Orang Arab Baduwi itu berkata, “Bagaimana amanah itu disia-siakan?” Beliau bersabda, “Jika urusan diserahkan kepada selain ahlinya, tunggulah saat-saat kehancuran.” (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Berlaku Amanah Terhadap Allah Ta’ala

Bersikap amanah terhadap Allah Ta’ala adalah tingkatan yang paling tinggi, dan memang diciptakannya kita di bumi mengemban tugas dari Allah Ta’ala yakni untuk beribadah. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56

Manusia hidup di dunia mengemban tugas besar, bukan sekedar makan dan minum serta membuat keturunan. Akan tetapi, ada amanah-amanah yang diembannya. Kalaulah manusia hidup sekadar untuk pemenuhan perut dan nafsu biologisnya, tidak ada bedanya dnegan makhluk lainnya seperti hewan-hewan yang ada.

Bedanya manusia dengan makhluk lain adalah dalam hal mengemban amanah. Dan ini yang tidak ada pada makhluk lain dibumi, semisal hewan-hewan yang ada.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun: 115).

Karena, semua yang manusia lakukan di bumi semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak lain adalah amanah-amanah yang diembannya selama hidup di dunia.

Bersikap Amanah Terhadap Keluarga

Kepala rumah tangga memiliki peran penting di lingkungan keluarganya. Ia harus mengusahakan dengan sepenuh tenaga agar rumah tangganya aman dari siksa neraka. Itulah tujuan utama dari berumah tangga, agar semuanya bisa bersama-sama diarahkan meniti  kehidupannya di  dunia dengan selamat, dan di akhirat selamat dari siksa neraka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (Qs. At-Tahrîm/66: 6)

Berlaku Amanah dalam Bekerja

Kepala rumah tangga tida sekedar memenuhi sandang pangan anak dan istrinya, akan tetapi kebutuhan rohani jauh lebih penting untuk diperhatikan. Karena tanggung jawab kepala rumah tangga adalah mampu mengantarkan rumah tangganya sampai di surga nanti.

Oleh : Ustadz Indra Kurniawan, S.Sos.I (Pendidik di PPM. Baitussalam)

Share.

Leave A Reply