Keikhlasan Sebagai Landasan Aktivitas – Taujih Selasa PPM Baitussalam

0

Keikhlasan Sebagai Landasan Aktivitas – Taujih Selasa PPM Baitussalam 6 Maret 2018

Ba’da tahmid wa shalawat. Para ustadz/ah yang dirahmati Allah SWT, tiada henti-hentinya kita mensyukuri nikmat Allah, yang tak terhingga banyaknya Allah berikan kepada kita. Yang ketika kita mesnyukurinya insyaAllah Allah akan terus menambah kenikmatan-kenikmatan yang lainnya. Pada pagi hari ini sebagaimana setiap Selasa, kita dikumpulkan untuk diberikan semangat dan motivasi, supaya terus bangkit dan terus saling mengingatkan. Agar kita dalam mengemban amanah dakwah dan perjuangan di lembaga pendidikan ini terus semangat, dan tidak surut.

Kali ini saya mengulangi lagi, dan mengingatkan pada diri saya dan ustadz/ah semuanya untuk membangun dan memperbarui kembali keikhlasan sebagai landasan aktivitas kita. Karena ikhlas itu yang menentukan keberhasilan. Karena ikhlas itu yang akan menentukan dalam meraih pahala dari Allah swt. Di manapun perjuangan sejak dahulu pasti dimenangkan oleh orang-orang yang punya keiklhasan. Dikarenakan tingginya keiklhasan mereka.

Ikhlas ini tidak boleh ditinggalkan dalam berjuang. Maka ada beberapa hal yang sudah kita hafal, misalnya ada Panca Jiwa Pondok, butir pertamanya “keikhlasan”. Ada juga Lima Tertib yang butir pertamanya “tertib hati”, untuk menertibkan, meluruskan hati yang kaitannya juga dengan keikhlasan. Dan adapula hal yang pernah saya sampaikan, tentang prinsip-prinsip penyangga perjuangan kita, setelah butir “al-fahmu” di sana ada “al-ikhlas”. Kalau dalam kitab-kitab kuno, dalam kitab-kita fiqh, didahului juga dengan tema keikhlasan. InsyaAllah dengan keikhlasan yang benar-benar kita realisasikan dalam aktivitas kita, maka akan mendukung produktivitas. Karena keikhlasan tidak bertentangan dengan kerja keras, justru jika ikhlas maka mesti harus kerja keras. Tidak bisa hanya sekedar ikhlas, sing penting ikhlas gak kerja gak apa-apa, kerja sedikit juga gak apa-apa. Yang seperti ini sangat bertentangan.

Para ustadz/ah yang dirahmati Allah swt, kita diingatkan dalam surat Yaasiin, “Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Yaasiin: 20-21)

Ini adalah gambaran pendukung yang datang dari tempat yang jauh, yang mengatakan untuk mengikuti perjuangan para utusan-utusan Allah. Kemudian dilanjutkan dengan ayat yang, mengatakan bahwa ikutilah mereka yang tidak meminta-meminta upah (gaji), atau yang tujuannya bukan untuk mencari bayaran. Tidak seperti itu (yang meminta bayaran) orang yang akan diikuti. Dapat diambil pelajaran bahwa kebesaran kita dan diikuti atau didukung oleh banyak orang dan masyarakat itu karena keikhlasan kita. Karena ketulusan kita, berjuang hanya untuk meninggikan kalimat Allah. Maka bukanlah kita di sini untuk mencari-cari, untuk mendapatkan hanya satu tujuan duniawi. Inilah orang yang ikhlas. Perkataan orang yang ikhlas itu bukan “wani piro”, tapi “aku iso ngopo”. Yang mukhlis itu bukan yang berkata “apa yang aku dapatkan” namun “apa yang bisa saya berikan”.

Suatu lembaga yang tidak bisa maju atau sulit maju, karena dalam lembaga itu terjadi perebutan-perebutan untuk mendapatkan sesuatu. Maka di sinilah akan diujikan kepada kita di depan kita semua. “Innallaaha mubtaliikum binaharin”, Allah akan menguji kalian dengan sungai. Diceritakan dalam kisah Thalut, yang tentaranya diuji dengan sungai yang jernih di tengah perjalanan yang sangat panjang di tempat yang kekeringan. Maka siapakah mereka yang bisa menghadapi permasalahan yang besar, yaitu akan bisa menghadapi dan mengalahkan tentara Jalut? Hal ini dikisahkan dalam surah Al-Baqarah ayat 249;

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.””

Inilah ustadz/ah yang dirahmati Allah swt, jika kita ingin lembaga kita menjadi besar di hadapan Allah, maka terus kita bangun keikhlasan itu. Keikhlasan sebagai landasan aktivitas itu terus kita perbaharui. Bahkan kita melangkah berangkat dari rumah ke sini itu sudah ada bismillaah tawakkaltu ‘alallah laa haula walaa quwwata illaa billaah, niat ingsung niat untuk berjuang, niat untuk mendidik anak-anak kita dan niat untuk li i’la’i kalimatillaah. Maka ketika para mukhlisun ini berkumpul, para mukhlisun ini bersatu, akan menjadi suatu kekuatan yang sangat besar. Dalam mengangkat dan menyangga lembaga kita menjadi lebih ringan. Lain halnya bila berbeda-beda, ada mukhlis ada yang tidak maka akan berat.

Maka dari itulah para ustadz/ah yang dirahmati Allah swt, perlunya kita untuk selalu mentajdid, memperbaharui keikhlasan kita. Jangan selalu kita bertanya aku oleh opo, wani piro dan lain sebagainya. Akan tetapi apa yang bisa saya berikan untuk perjuangan ini, apa yang bisa saya lakukan dan apa yang bisa saya kerjakan. InsyaAllah dengan niat yang sama, dengan ikhlas yang sama insyaAllah akan mendapatkan kemenangan, kebesaran dan kemajuan pesantren kita.

Ini yang bisa saya sampaikan pada hari ini. Semoga yang sedikit ini dapat mengingatkan dan meningkatkan kembali keikhlasan kita. Keikhlasan sebagai landasan aktivitas kita di pondok pesantren kita ini.

Disampaikan oleh : KH. Abdul Hakim (Pimpinan PPM Baitussalam)
Ditulis kembali oleh : Mas Cah

Share.

Leave A Reply