Keikhlasan Niat – Taujih Selasa PPM Baitussalam

0

Mari kita senantiasa mengulang-ulang kesyukuran kita, atas rahmat dan karunia yang dilimpahkan kepada kita semua. Dimana Alloh senantiasa meringankan kita, untuk mengerjakan amal sholih dengan keikhlasan. Bagaimanapun amalan sholih yang tersedia dihadapan kita terasa berat, sulit kita lakukan jika bukan atas karunia dari Alloh subhanahu wa ta’ala. Apapun amal sholih, amanah kalau dilakukan dengan keikhlasan dan rasa senang pekerjaan itu tidak akan terasa berat. Apalagi amanah untuk menjadikan kita menjadi Pesantren terbaik di Jogja (-red)

Taujih perdana semester genap ini mari kita gunakan kesempatan selasa pagi yang rutin untuk merefresh, menyegarkan niat dan semangat kita. Karena kita adalah manusia kondisinya selalu naik turun, sebagaimana yang digambarkan okeh rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam

مثل المؤمن كمثل ثمبلة

Perumpamaan muslim itu seperti rumpun padi. Artinya, rumpun padi itu selalu bergoyang ke kanan dan ke kiri ketika terkena hembusan angin.

Gambaran kondisi seorang mu’min kadang- kadang dalam kondisi ideal, kadang-kadang dalam kondisi kurang, kadang-kadang naik kadang-kadang turun. Bahkan bukan hanya kondisi fisiknya, akan tetapi kondisi lahiriyahnya pun berubah-ubah. Yakni, kondisi imannya kadang-kadang kuat kadang-kadang
lemah. Dan kita kenal dengan kondisi futur.

Karenanya taujih selasa pagi sebagai saran memperbaharui kondisi iman kita. kita sering mendengar sesuatu yang diulang-ulang(materi taujih) tapi kita percaya selama itu peringatan, maka peringatan itu akan selalu memberi manfaat bagi mu’min.

Dalam hal peringatan, semestinya kita jalankan dua arah dan ini insyaAlloh dari kita berkumpul hari ini, kita melihat saudara-saudara kita tanpa berkata-katapun apa yang kita lihat dari saudara kita, bisa diambil sebagai sebuah peringatan. Ini yang kita harapkan.

Kemudian ikhwani rahimakumulloh, mari kita kembali kepada sesuatu yang amat mendasar(fundamental) yaitu masalah niat(ikhlash). Rasululloh berda’wah kepada mad’u yang pertama yaitu orang-orang qurasy Makkah, inti dari da’wah beliau adalah menanamkan keikhlasan delam beribadah, penanaman keimanan.

Dalam hal keimanan, kita diperintahakan oleh rasululloh sholallohu ‘alaihi wasallam agar terus memperbaharui, mengulang-ulang keimanan kita. Sekalipun orang islam cukup sekali masuk Islam denga mengucapkan لا اله الا الله واشهد ان محمدا رسول الله
tapi rasululloh berpesan agar senantiasa memperbahui keislaman kita, keimanan kita

جددوا ايمانكم بقول لا اله الا الله

Perbaharuilah keimananmu dengan kalimat لا اله الا الله

Kita bisa mengambil pelajaran penting bahwa, sesuatu yang kiranya begitu sederhana (kalimat tauhid) sebenarnya bisa memberikan efek terbaharuinya keimanan, apa lagi ketika yang kita perbaharui bukan pengulangan bacaan kalimat tauhid. Akan tetapi jauh dari itu adalah makna dan kandungannya.

Kita harus ulang-ulang terus pemahaman kita seputar makna لا اله الا الله , demikian adalah yang menentukan sah tidaknya diterimanya amal sholih kita di hadapan Alloh subhanahu wata’al.

Seberapa besar apapun amanah kita jika tidak didasari pemahaman yang benar terhadap kalimat لا اله الا الله ini, tidak ada artinya apa-apa. Akan tetapi sebaliknya, manakala pekerjaan atau amalan yang kecil, sepele ketika didasari dengan pemahaman yang benar, ikhlas yang murni, maka nilainya akan sangat berharga di sisi Alloh subhanahu wata’ala.

Kisah menarik dari umatnya nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Salah satu umatnya cemburu dengan harta kekayaan yang melimpah dimiliki nabi Sulaiman, yang demgannya bisa diinfakkan di jalan Alloh. Kecemburuannya didengar oleh nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan kemudian beliau berkata. “sungguh satu bacaan tasbih satu kali yang Aloh terima, ini pahalanya jauh lebih baik dibandingkan seluruh apa yang diberikan Alloh kepada keluarga Dawud ‘alaihis salam”.

Amalan apapun sekalipun kecil ketika didasari niat yang ikhlas, maka nilainya akan menjadi luar biasa dihadapan Alloh subhanahu wata’ala.

Ikhwani fillah rahimakumulloh, pekerjaan kita dari oagi hingga sore hari, amat sayang jika energi yang jika keluarkan, yang kita selesaikan jika tidak kita sempurnakan dengan “keikhlasan”.

Disampaikan oleh: Ustadz Ali Muhsin, PPM Baitussalam Prambanan.
Diresume oleh: Indra Kurniawan
Editor: Be Gino

Share.

Leave A Reply