Berinteraksi dengan Al-Qur’an – Pesantren Tahfidz Qur’an di Yogyakarta

0

Pondok Pesantren Modern Baitussalam yang juga merupakan salah satu pesantren tahfidz Qur’an di Yogyakarta menekankan kepada santrinya untuk senantiasa dekat dan berinteraksi dengan Al-Qur’an Al-Karim. Karena Al-Qur’an merupakan petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia, khususnya umat Islam. Akan tetapi pada masa kini, manusia banyak yang melalaikan Al-Qur’an. Seperti telah diisyaratkan sejak zaman kenabian dulu.

Suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengadu kepada Allah Ta’ala, karena khawatir akan datang suatu zaman di mana Al-Qur’an tidak dibaca lagi oleh umat-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala sebagai berikut:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran ini mahjura” (QS. Al Furqan: 30)

Ibnu Katsir mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang Nabi-Nya yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia mengatakan “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini mahjura”. Demikian itu karena orang-orang musyrik tidak mau mendengar Al-Qur’an dengan penuh ketaatan dan tidak mau pula mendengarkannya.

Benarlah kenyataan pada saat ini, orang lebih akrab dengan gadget-nya dari pada Al-Qur’an. Tidak kenal waktu, pergi ke masjid atau bahkan di toiletpun gadget tidak lepas darinya. Sungguh beralasan kenapa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam khawatir jika akan datang zaman di mana ummatnya membiarkan Al-Qur’an tidak dibacanya.

Berikut adalah di antara tahapan bagaimana kita berinteraksi dengan Al-Qur’an;

Berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan cara  Merutinkan Membacanya

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضى الله عنه قَالَ : تَعَلَّمُوا هَذَا الْقُرْآنَ ، فَإِنَّكُمْ تُؤْجَرُونَ بِتِلاَوَتِهِ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ ، أَمَا إِنِّى لاَ أَقُولُ بِ الم وَلَكِنْ بِأَلِفٍ وَلاَمٍ وَمِيمٍ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pelajarilah Al Quran ini, karena sesungguhnya kalian diganjar dengan membacanya setiap hurufnya 10 kebaikan, aku tidak mengatakan itu untuk الم , akan tetapi untuk untuk Alif, Laam, Miim, setiap hurufnya sepuluh kebaikan.” (Atsar riwayat Ad Darimy dan disebutkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 660).

Besar sekali pahala yang kita dapatkan jika merutinkan membaca Al-Qur’an. Tidak tanggung-tanggung balasan bagi orang yang membaca Al-Qur’an perhurufnya dibalas dengan sepuluh kebaikan. Bagaimana jika perhari bisa selesai satu juz? Tidak terhitung betapa banyaknya pahala bagi orang yang rutin membaca Al-Qur’an.

Adapun Allah subhanahu wata’ala berfirman;

{الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (30)}

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Sangat rugi jika ada orang yang sudah bisa membaca Al-Qur’an, akan tetapi melewatkan hari-harinya tidak sempat membaca al qur’an.

Berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan cara Memahami Kandungan Maknanya

Selanjutnya tahapan bagi orang yang senantiasa bersemangat meraih keutamaan dari berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah menghafalnya. Allah Ta’ala janjikan kemudahan-kemudahan bagi siapa saja yang ingin bersahabat dekat dengan Al-Qur’an yaitu mentadaburinya. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagai berikut;

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur`ân untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran? (Qs. Al-Qomar (54) :17)

Permasalahannya ada pada pribadi kita masing-masing. Sudahkah kita memiliki kesungguhan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an sebaik-baiknya yakni mentadaburinya, menyelami kandungan-kandungan maknanya. Yang dengannya Al-Qur’an menjadi hujjah baginya, baik di dunia maupun di akhirat.

Allah Ta’ala berfirman;

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa: 82)

Sungguh saat ini semua fasilitas untuk mudahnya mentadaburi Al-Qur’an sangat banyak, kitab-kitab ulama sudah banyak disajikan ditengah-tengah kita. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak mentadaburi Al-Qur’an. Sehingga dengannya makin sering mentadaburi Al-Qur’an dan menjadi kokoh keimanan kita.

Berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan cara Berusaha Menghafalnya

Di antara tahapan yang tidak kalah penting ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah menghafalnya. Dan ini sudah terbiasa dipraktekkan oleh orang-orang sholih terdahulu. Kebanyakan mereka jauh sebelum mempelajari ilmu-disiplin agama, mereka terlebih dahulu menghafal Al-Qur’an. Salah satu contohnya adalah Imam syafi’i yang sudah hafal Al-Qur’an 30 juz di usia 9 tahun.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهْوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ ، وَمَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهْوَ يَتَعَاهَدُهُ وَهْوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ ، فَلَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang membaca dan menghafal al-Quran, dia bersama para malaikat yang mulia. Sementara orang yang membaca al-Quran, dia berusaha menghafalnya, dan itu menjadi beban baginya, maka dia mendapat dua pahala”. (HR. Bukhari 4937)

Semoga kita termasuk para ahli qur’an, yang memiliki waktu khusus berinteraksi dengan Al-Qur’an. Dan dengannya kita termasuk keluarganya Allah Ta’ala di dunia. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut;

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya” (HR. Ahmad).

Mereka yang tergolong keluarganya Allah Ta’ala adalah para pembaca al qur’an kemudian memahaminya dan dilanjutkan dengan berusaha menghafalnya.

Ditulis oleh: Ustadz Indra Kurniawan, S.Sos.I. (salah satu staf pendidik di PPM. Baitussalam)
Editor : Mas Cah

Share.

Leave A Reply