Bekal Kesabaran dalam Berjuang – Taujih Selasa Pesantren Modern di Jogja

0

Ba’da tahmid dan mengucap syukur kepada Allah subhanahu wata’ala. Sholawat serta salam tercurah kepada baginda Rasulullah sholallohu ‘alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jejaknya yang memiliki kesabaran sangat tinggi dalam berjuang.

Di dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bersabar. Karena pentingnya sabar, penyebutan ini sampai terulang sampai 90 kali di dalam Al-Qur’an dalam bentuk perintah, dalam bentuk ismun fa’il, dalam bentuk masdar dan seterusnya. Bahkan dalam surat ‘Ali-‘Imran ayat terakhir disebutkan dua kali;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٢٠٠)

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Qs. ‘Ali-‘Imran : 200)

Alloh memerintahkan untuk senantiasa bersabar dan bersabar. Kalau kita melihat sirah nabawiyah yaitu sirah para nabi, sirah para rasul senjatanya satu yang paling dahsyat, yaitu sabar. Kita tahu bagaimana Musa ‘alaihissalam bersabar menghadapi fir’aun. Bagaimana nabi Yusuf ‘alaihissalam sabar menghadapi fitnah dan siksaan. Serta bagaimana pula dengan para nabi dan rasul yang disebut dengan nabi ulul azmi.

Sabar dalam mendapatkan musibah, maka diperintahkan untuk bersabar sebagaimana sabarnya nabi atau rasul ulul azmi.

فا صبر كما صبروا اول الازم من الرسل

Maka bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya orang-orang yang memiliki keteguhan dari para rasul.” (Qs. Al-Ahqaf: 35).

Kita diperintahkan bersabar sebagaimana sabarnya rasul ulul azmi ketika mendapat ujian. Sebagaimana dakwah dan berjuang pasti ada rintangan, baik sumbernya internal maupun eksternal terus menerpa, tidak ada henti-hentinya dan jawabannya hanya pada satu saja, yaitu sabar. Di manapun kita berjuang, salah satunya di lembaga pendidikan pasti juga ada ujian, kesulitan dan seterusnya.

Ujian yang datang kepada kita “bisyarri wal khairi” yaitu adanya kesulitan, kejelekan dan juga ujian berupa ujian kebaikan dan kesenangan. Pastilah ini (ujian) mengiringi kehidupan kita, terutama dalam dakwah dan dalam berjuang selalu kita temukan. Keadaan lapang, sempit maupun longggar,dalam keadaan yang menyulitkan semuanya datang silih berganti, baik kesempitan maupun kelonggaran.

Ketika menemukan kemudahan-kemudahan, jangan lupa ini bagian dari ujian. Orang yang sabar dalam menghadapi fitnah atau ujian, janji Allah “ajruhum bighairi hisab”. Balasan yang tak terhingga. Sebagaimana firman Alloh sebagai berikut;

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu akan dipenuhi pahala mereka dengan tiada hitungannya.” (Qs. Az Zumar: 10)

Karenanya, kita harus selalu sabar dalam melaksanakan amanah yang ada, terus kita bersabar. Sabar ada tiga macam. Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan. Kedua, sabar dalam menahan atau menghindarkan diri dari perilaku maksiat. Dan yang ke tiga sabar dalam musibah. Orang yang sabar dalam melaksanakan perintah adalah kesabaran. Ada tugas, ada perintah dan bisa melaksanakan itu merupakan bukti kesabaran. Kalau tidak mampu melaksanakan berarti tidak sabar.

Begitu juga sebaliknya menghadapi kemaksiatan, menghadapi sesuatu yang diharamkan oleh Alloh, dan orang yang mampu menghindari kemaksiatan itu adalah orang yang sabar. Orang yang bisa menghadapi musibah, mengatasi musibah dengan sabar.

Oleh : KH. Abdul Hakim Aka. (Pimpinan Pondok Pesantren Modern Baitussalam)

Share.

Leave A Reply