Adab Niat – Kajian Kitab Minhajul Muslim di Pesantren Baitussalam Prambanan

0

pesantren unggulan di YogyakartaKajian kitab Minhajul Muslim di PPM Baitussalam Prambanan sebuah pesantren unggulan di Yogyakarta pada Ahad 11 Maret 2018 bersama ustadz Abu Yasir, Lc., membahas tema tentang “Adab Niat”. Niat merupakan hal yang sangat penting dalam hidup seorang muslim karena akan menjadi penentu dari apa yang dikerjakan oleh seseorang. Mari kita simak ringkasan materinya.

Bersabda Rosululloh saw:
(ألا و إن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهو القلب)
Sungguh di dalam diri manusia itu ada segumpal darah, jika ia baik maka baiklah seluruh diri manusia, dan jika ia buruk maka buruklah perangai manusia, dia adalah hati.”

Islam tidak hanya mengurus urusan yang kasat mata, tapi juga mengurus dan memanage hati, seluruh amalan manusia tergantung hatinya atau niatnya.

Seorang muslim meyakini pentingnya perkara niat, karena ia sebagai pembeda seluruh apa yang dikerjakan.
Jjika amalan-amalan mubah ia niatkan untuk ibadah maka berpahala ibadah. Dan jika amalan ibadah tidak dia niatkan untuk ibadah maka tidak akan mendapatkan nilai ibadah, bahkan bisa berdosa. Sebagai contoh adalah sholat yang diniatkan untuk dipuji orang lain, maka bernilai dosa.

Keyakinan seorang muslim terhadap pentingnya niat, dan wajib untuk memperbaikinya adalah Firman Allah ta’ala:

((وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ))
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama (Qs. Al-Bayyinah: 5)

Dan juga:
(قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ)
Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (Qs. Az-Zumar:11)

Dan sabda Nabi saw:
(إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى)
Seluruh kegiatan amal perbuatan seseorang hanyalah dilihat dari niatnya, dan amal setiap orang hanyalah tergantung dari niatnya.” (Muttafaq alaihi)

Dan juga:
(إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم)
Sungguh Allah tidak melihat fisikmu juga hartamu, tapi Dia melihat hatimu dan amal-amalmu.” (H.R Muslim)

Melihat hati berati melihat niat dari semua apa yang kita kerjakan. Maka niat adalah motor penggerak bagi amal dan pendorong untuk melakukan sesuatu.

Rosululloh saw bersabda:
(من هم بحسنة ولم يعملها كتبت له حسنة)
Barangsiapa yang menginginkan atau meniatkan mengerjakan suatu kebaikan, maka Allah akan mencatat satu kebaikan pahala walaupun ia belum mengerjakannya.”

Dan hanya dengan keinginan untuk mengerjakan suatu kebaikan saja, kemudian dia niatkan untuk ikhlas mendapatkan ridlo Allah, maka Allah sudah menghitung sebagai pahala. Walau pun ia belum mengerjakannya.
Tapi bukan sebaliknya, bahwa siapa yang berniat mengerjakan sesuatu tapi tak berniat mengerjakannya karena ia hanya ingin mendapat pahala niat, maka dia berbohong kepada Allah SWT dan ia tak mendapatkan apa-apa.

pesantren unggulan di Yogyakarta

Sabda Rosululloh saw; bahwa manusia terbagi menjadi 4 golongan dalam hal niat:
1. Seorang yang Allah berikan ilmu dan harta maka ia mengamalkan ilmunya dan menggunakan harta sebaik-baiknya.
2. Orang yg berkata jika Allah berikan aku ilmu dan harta seperti orang yang pertama maka akan aku gunakan seperti apa yang ia gunakan.
Maka orang pertama dan kedua berada dalam derajat pahala yang sama.
3. Seorang yang diberikan harta kepadanya dan ia gunakan untuk hal-hal yang negatif.
4. Seorang yang berkata: jika aku diberikan harta maka aku gunakan seperti orang yang ketiga gunakan,
Maka orang ketiga dan keempat berada dalam satu level dosa. (dari HR. Ibnu majah)

Dari hadis di atas kita pahami bahwa jika kita iri dengan kebaikan seseorang lalu kita niatkan jika kita mampu maka akan mengerjakan apa yang ia kerjakan, maka sebelum kita mengerjakanya Allah telah mencatatnya sebagai satu kebaikan. Begitupula sebaliknya.

Ketika sedang perang tabuk Rosululloh berkata kepada para sahabatnya: “sesungguhnya di Madinah ada golongan orang, mereka tidak ikut berperang dengan kita tapi mereka mendapatkan pahala sama seperti yg kita dapatkan, para sahabat bertanya: siapa mereka wahai Rosululloh? Rosululloh menjawab, mereka adalah orang-orang yang memiliki uzur tidak bisa ikut berjihad, tapi hati mereka sungguh ingin mengikuti kita berjihad.” (HR. Bukhori dan Abu Dawud)

Maka niatlah yang menjadikan orang yang tidak ikut berjihad mendapatkan pahala jihad, dan menjadikan seorang yang bukan mujahid mendapatkan pahala mujahid.

Rosululloh saw bersabda: “ketika ada dua orang muslim saling membunuh, maka yg membunuh dan yang dibunuh masuk neraka.
Bbertanya para sahabat: Yaa Rosululloh, kalau yg membunuh masuk akal jika ia dineraka, namun bagaimana bisa yg terbunuh juga masuk neraka?
jawab Rosul: karena ia berniat untuk membunuh saudaranya.” (Muttafaq alaihi)

Dan juga seorang yang menikah, dia berjanji akan memberikan mahar di akhir, tapi dia tidak berniat untuk memberikannya, maka dia telah berzina, seperti sabda Rosululloh saw:

(من تزوج بصداق لا ينوي أداءه فهو زان، ومن أدان دينا وهو لا ينوي قضاءه فهو سارق)
Barang siapa yang menikah dengan suatu mahar, dan ia tidak berniat untuk memberikannya, maka selama dia berhubungan dia adalah pezina, dan barang siapa yang berhutang tapi tidak berniat untuk membayarnya maka dia adalah pencuri.” (H.R Ahmad)

Sebagai seorang muslim, mari kita menjaga niat, dan berhati-hati dengan hati.

Wallohua’lam bishowab

Intisari kajian kitab Minhajul Muslim
oleh: ust. Abu Yasir, Lc. (Salah satu pendidik di Pondok Pesantren Modern Baitussalam)
editor : Mas Cah

Share.

Leave A Reply